Thursday, October 27, 2011

Pelapisan Sosial dan Kesamaan Derajat

Pengertian Pelapisan Sosial
Masyarakat terbentuk dari individu-individu. Individu-individu yang terdiri dari berbagai latar belakang tentu akan membentuk suatu masyarakat heterogen yang terdiri dari kelompok-kelompok sosial. Dengan adanya atau terjadinya kelompok sosial ini maka terbentuklah suatu pelapisan masyarakat atau terbentuklah masyarakat berstrata.
Istilah stratafikasi atau stratafication berasal dari kata STRATA atau STRATUM yang berarti Lapisan. Karena itu Social Stratafication serting diterjemahkan dengan Pelapisan Masyarakat. Sejumlah individu mempunyai kedudukan (Status) yang sama menurut ukuran masyarakatnya. Dikatakan berada dalam suatu lapisan atau stratum Pitirim A. Sorokin memberikan definisi pelapisan masyarakat sebagai berikut: “Pelapisan masyarakat adalah perbedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas yang tersusun secara bertingkat (hierarchis), sedangkan menurut Theodorson dkk didalam Dictionary of Sociology Pelapisan Masyarakat berarti jenjang status dan peranan yang relatif permanen yang terdapat di dalam sistem sosial (dari kelompok kecil sampai ke masyarakat) di dalam hal pembedaan hak, pengaruh dan kekuasaan.

Terjadinya Pelapisan Sosial
1. Terjadi dengan sendirinya
Proses ini berjalan sesuai dengan pertumbuhan masyarakat itu sendiri. Adapun orang-orang yang menduduki lapisan tertentu dibentuk bukan berdasarkan atas kesengajaan yang disusun sebelumnya oleh masyarakattersebut . Tetapi berjalan secara alamiah dengan sendirinya.
2. Terjadi secara disengaja
Proses ini dengan sengaja ditunjukan untuk mengejar tujuan bersama. Di dalam sistem  pelapisan ini ditentukan secara jelas dan tegas adanya wewenang dan kekuasaan yang diberikan kepada seseorang. Dengan adanya pembagian yang jelas dalam wewenang dan kekuasaan ini maka didalam organisasi terdapat keteraturan sehingga jelas bagi setiap orang di tempat mana letaknya kekuasaan dan wewenang yang dimiliki dan dalam suatu organisasi baik secara vertikal maupun secara horizontal.
    Pembedaan Sistem Pelapisan Masyarakat

    Pembedaan sistem pelapisan menurut sifatnya dibedakan menjadi:
    1. Sistem pelapisan masyarakat yang tertutup
    Sistem ini bisa kita temui didalam masyarakat feodal atau masyarakat yang berdasarkan realisme (seperti pemerintahan di Afrika Selatan yang terkenal masih melakukan politik apartheid atau perbedaan warna kulit yang disahkan undang-undang), atau masyarakat di India yang masyarakatnya mengenal sistem kasta yang terbagi dalam :
    a. Kasta Brahmana: kasta golongan pendeta yang merupakan kasta tertinggi
    b. Kasta Ksatria : kasta golongan bangsawan dan tentara yang merupakan lapisan kedua
    c. Kasta Waisya : kasta golongan pedagang
    d. Kasta Sudra : kasta golongan rakyat jelata
    e. Paria : kaum gelandangan, peminta dsb.

    2. Sistem pelapisan masyarakat yang terbuka
    Di dalam sistem ini setiap anggota masyarakat memiliki kesempatan untuk jatuh ke lapisan yang ada di bawahnya atau naik ke lapisan yang atasnya.
    Sistem yang demikian ini dapat kita temukan misalnya di dalam masyarakat Indonesia sekarang ini. Setiap orang diberi kesempatan untuk menduduki segala jabatan bila ada kesempatan dan kemampuan untuk itu. Tetapi disamping itu orang juga dapat turun dari jabatannya bila dia tidak mampu mempertahankannya.
    Status / kedudukan yang diperoleh berdasarkan atas usaha sendiri disebut Achieve status.

    Teori tentang Pelapisan Masyarakat

    Beberapa teori tentang pelapisan masyarakat dicantumkan sebagai berikut :
    1. Aristoteles mengatakan : di dalam tiap-tiap negara terdapat tiga unsur yaitu mereka yang kaya sekali, mereka yang melarat sekali, dan mereka yang berada di tengah-tengah.
    2. Prof. Dr. Selo Sumardjan dan Soelaiman Soemardi, SH, MA mengatakan : selama di dalam masyarakat ada sesuatu yang dihargai olehnya dan setiap masyarakat pasti mempunyai sesuatu yang dihargainya, maka barang itu akan menjadi bibit yang dapat menumbuhkan adanya sistem berlapis-lapis dalam masyarakat.
    3. Vilfredo Pareto, mengatakan bahwa ada dua kelas yang senantiasa berbeda setiap waktu  yaitu Elite dan golongan Non Elite.
    4. Gaotano Mosoa, di dalam The Ruling Class mengatakan sebagai berikut: Di dalam seluruh masyarakat dari masyarakat yang sangat kurang berkembang, sampai pada masyarakat yang paling maju dan penuh kekuasaan dua kelas selalu muncul ialah kelas yang pemerintah dan kelas yang diperintah.
    5. Karl Marx : ada dua macam didalam setiap masyarakat yaitu kelas yang memiliki tanah dan alat-alat produksi lainnya dan kelas yang tidak mempunyainya dan hanya memiliki tenaga untuk disumbangkan dalam proses produksi.
      

    Kesimpulannya adalah kesamaan derajat sebenarnya sudah diatur juga dalam agama yang sering disebut bahwa derajat manusia berbeda-beda, dan memang dicipatakan berbeda-beda karena untuk menjadikan manusia itu sadar akan nikmat yang diberikan Tuhan dan menjadikan mereka saling mengenal. Kini kesamaan derajat di Indonesia juga diakui sehingga dituang dalam Undang-Undang Dasar Negara RI yang disebutkan bahwa setiap warganegara berkedudukan sama dimata pemerintah dan hukum.
    Didalam hukum sering dijumpai masalah bahwa masyarakat yang merasa derajatnya dibawah selalau mengalami penindasan, berbeda dengan masyarakat kalangan atas yang notabene melakukan kejahatan besar tetapi tetap diperlakukan dengan sopan tidak sama dengan apa yang dilakukan terhadapat masyarakat kecil. Hal-hal seperti itu seharusnya dapat dihindari dan diminimalisir karena sangat mengganggu keberlangsungan pengamalan UUD 45 yang menyebutkan bahwa setiap warga negara berkedudukan sama dimata hukum.
    Untuk itu saya hanya menghimbau agar setiap warga masyarakat dapat menghormati dan menaati ketentuan-ketentuan yang sudah dibuat untuk menghargai hak kesamaan derajat setiap orang.

    Peran Pendidikan dalam Pembangunan

    Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia unuk pembangunan. Derap langkah pembangunan selalu diupayakan seirama dengan tuntutan zaman. Perkembangan zaman selalu memunculkan persoalan-persoalan baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Bab ini akan mengkaji mengenai permasalahan pokok pendidikan, dan saling keterkaitan antara pokok tersbut, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangannya dan masalah-masalah aktual beserta cara penanggulangannya. Apa jadinya bila pembangunan di Indonesia tidak dibarengi dengan pembangunan di bidang pendidikan?. Walaupun pembangunan fisiknya baik, tetapi apa gunanya bila moral bangsa terpuruk. Jika hal tersebut terjadi, bidang ekonomi akan bermasalah, karena tiap orang akan korupsi. Sehingga lambat laun akan datang hari dimana negara dan bangsa ini hancur. Oleh karena itu, untuk pencegahannya, pendidikan harus dijadikan salah satu prioritas dalam pembangunan negeri ini.

    Pemerintah dan Solusi Permasalahan Pendidikan

    Mengenai masalah pedidikan, perhatian pemerintah kita masih terasa sangat minim. Gambaran ini tercermin dari beragamnya masalah pendidikan yang makin rumit. Kualitas siswa masih rendah, pengajar kurang profesional, biaya pendidikan yang mahal, bahkan aturan UU Pendidikan kacau. Dampak dari pendidikan yang buruk itu, negeri kita kedepannya makin terpuruk. Keterpurukan ini dapat juga akibat dari kecilnya rata-rata alokasi anggaran pendidikan baik di tingkat nasional, propinsi, maupun kota dan kabupaten.

    Penyelesaian masalah pendidikan tidak semestinya dilakukan secara terpisah-pisah, tetapi harus ditempuh langkah atau tindakan yang sifatnya menyeluruh. Artinya, kita tidak hanya memperhatikan kepada kenaikkan anggaran saja. Sebab percuma saja, jika kualitas Sumber Daya Manusia dan mutu pendidikan di Indonesia masih rendah. Masalah penyelenggaraan Wajib Belajar Sembilan tahun sejatinya masih menjadi PR besar bagi kita. Kenyataan yang dapat kita lihat bahwa banyak di daerah-daerah pinggiran yang tidak memiliki sarana pendidikan yang memadai. Dengan terbengkalainya program wajib belajar sembilan tahun mengakibatkan anak-anak Indonesia masih banyak yang putus sekolah sebelum mereka menyelesaikan wajib belajar sembilan tahun. Dengan kondisi tersebut, bila tidak ada perubahan kebijakan yang signifikan, sulit bagi bangsa ini keluar dari masalah-masalah pendidikan yang ada, apalagi bertahan pada kompetisi di era global.

    Kondisi ideal dalam bidang pendidikan di Indonesia adalah tiap anak bisa sekolah minimal hingga tingkat SMA tanpa membedakan status karena itulah hak mereka. Namun hal tersebut sangat sulit untuk direalisasikan pada saat ini. Oleh karena itu, setidaknya setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam dunia pendidikan. Jika mencermati permasalahan di atas, terjadi sebuah ketidakadilan antara si kaya dan si miskin. Seolah sekolah hanya milik orang kaya saja sehingga orang yang kekurangan merasa minder untuk bersekolah dan bergaul dengan mereka. Ditambah lagi publikasi dari sekolah mengenai beasiswa sangatlah minim.

    Sekolah-sekolah gratis di Indonesia seharusnya memiliki fasilitas yang memadai, staf pengajar yang berkompetensi, kurikulum yang tepat, dan memiliki sistem administrasi dan birokrasi yang baik dan tidak berbelit-belit. Akan tetapi, pada kenyataannya, sekolah-sekolah gratis adalah sekolah yang terdapat di daerah terpencil yang kumuh dan segala sesuatunya tidak dapat menunjang bangku persekolahan sehingga timbul pertanyaan, ”Benarkah sekolah tersebut gratis? Kalaupun benar, itu wajar karena sangat keadaan tersebut sangat memprihatinkan.”

    Saturday, October 15, 2011

    Pemuda & Sosialisasi

    Pengertian Pemuda dan Sosialisasi

    Pemuda adalah golongan individu-individu muda yang masih memerlukan pembinaan dan pengembangan ke arah yang lebih baik, agar dapat melanjutkan dan mengisi pembangunan yang kini telah berlangsung, pemuda di Indonesia dewasa ini sangat beraneka ragam, terutama bila dikaitkan dengan kesempatan pendidikan. Keragaman tersebut pada dasarnya tidak mengakibatkan perbedaan dalam pembinaan dan pengembangan generasi muda.

    Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Sejumlah sosiolog menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory). Karena dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan oleh individu.

    Dalam sosialisasi mempunyai 2 jenis yaitu Sosialisasi Primer dan Sosialisasi Sekunder. Sosialisasi Primer merupakan sosialisasi yang dipelajari sejak lahir dalam sebuah keluarga, sedangkan Sosialisasi Sekunder merupakan suatu bentuk sosialisasi lanjutan dari sosialisasi primer untuk memperkenalkan suatu individu ke kelompok masyarakat lainnya. Adapun agen-agen yang membantu proses sosialisasi yaitu Keluarga, Sekolah, Teman Pergaulan, Media Massa dan Agen-agen lainnya. Setiap masing-masing agen mempunyai peranan dalam men-sosialisasikan suatu hal.

    Maka dapat diambil suatu kesimpulan, bahwa Pemuda merupakan individu-individu muda yang masih memerlukan suatu bimbingan untuk mengarahkan dirinya menjadi individu yang dewasa dan berguna bagi masyarakat dan negara. Sedangkan kesimpulan yang dapat diambil dari Sosialisasi merupakan suatu bentuk proses penanaman suatu aturan dan nilai kepada suatu generasi dan ke generasi lainnya secara berlanjut agar menjadi suatu bentuk pengenalan dalam bidang-bidang tertentu.

    Thursday, October 6, 2011

    Individu, Masyarakat dan Keluarga

    Individu, Masyarakat dan Keluarga adalah suatu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan satu dengan yang lainnya. Seperti yang diketahui, individu dan keluarga sangat berkaitan erat dengan masyarakat. Maka dari itu individu, keluarga dan masyarakat merupakan suatu kesatuan dari suatu kelompok atau komunitas yang berhubungan erat dengan yang satu dengan yang lain dan bersifat interdependen (saling bergantung sama yang lain).

    Pengertian dari Individu, Masyarakat dan Keluarga
    Individu adalah individu berarti juga bagian terkecil dari kelompok masyarakat yang tidak dapat dipisah lagi menjadi bagian yang lebih kecil.

    Masyarakat adalah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain).

    Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.