Monday, April 4, 2016

Tugas 2 - Bahasa Indonesia 2

Resensi Buku "Bumi Manusia"

Judul                       : Bumi Manusia
Penulis                    : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit                  : Hasta Mitra
Tahun Terbit          : 2000
Jumlah Halaman   : 405

Bumi Manusia adalah buku pertama dari Tetralogi buru karya Pramoedya Ananta Toer. Buku ini ditulis Pramoedya ketika masih mendekam di Pulau Buru. Sebelum ditulis pada tahun 1975, sejak tahun 1973 terlebih dahulu diceritakan ulang kepada teman-temannya. Buku ini melingkupi masa kejadian antara tahun 1898 hingga tahun 1918, masa ini adalah masa munculnya pemikiran politik etis dan masa awal periode Kebangakitan Nasional. masa ini juga menjadi awal masuknya pemikiran rasional ke Hindia Belanda masa awal pertumbuhan organisasi-organisasi modern yang juga merupakan awal kelahiran demokrasi pola Revolusi Perancis.
Buku  ini adalah karya yang begitu mengagumkan, di dalamnya begitu banyak pesan yang disampaikan secara tersirat maupun tersurat. Pramoedya Ananta Toer membuat ceritanya mengalir begitu saja dengan berbagai konflik yang monumental. Buku ini adalah buku yang berbeda yang pernah saya baca dan membuat saya jatuh cinta pada buku ini. Kisah yang disajikan berlatar pada akhir abad 19 menjelang abad 20, memuat tentang keadaan sosial pada saat itu dengan segala permasalahan yang ada. Alur ceritanya begitu menarik untuk di ikuti, keadaan masyarakat pada masa pemerintahan Hindia Belanda ia gambarkan dengan begitu jelas. Berbagai permasalahan ia tuliskan dengan jelas hampir tanpa celah. Dalam tulisannya sendiri ia mengisahkan tentang kisah cinta antara seorang pribumi dengan gadis Indo keturunan Belanda.
Minke, seorang pribumi yang mempunyai pola pikir layaknya seorang Eropa, ia memang bukanlah keturunan pribumi biasa, dalam darahnya masih mengalir darah para raja jawa, tetapi dirinya sendiri sudah hampir bukan seorang jawa, hanya tubuhnya saja yang jawa tetapi semua pandangannya tentang hidup sudah benar-benar seperti pandangan seorang Eropa. Suatu hal yang tidak biasa pada zamannya. Ia adalah seorang pemuda yang cerdas, penyuka sastra, berbeda dengan pemuda lain. Annelis Mellema, gadis yang begitu cantik, bahkan dalam buku ini kecantikannya melebihi kecantikan dari Ratu Nederland pada saat itu, Ratu Wihelmina. Ia merupakan putri dari seorang  Nyai, bukan seorang Nyai biasa, bukan hanya seorang gundik yang seringkali dianggap menjijikkan. Ia merupakan putri dari seorang ibu yang luar biasa, seorang ibu yang begitu mampu mengurusi banyak pekerjaan setelah Tuan Mellema, suami tidak sahnya, berubah menjadi orang gila orang yang sudah tidak peduli pada apapun disekelilingnya. Annelis lebih memilih untuk menjadi seorang pribumi seperti ibunya, walaupun ayahnya merupakan seorang belanda. Gadis ini begitu manja pada mamanya, sikapnya begitu manis. Sangat bertolak belakang dengan sikap Annelis, kakaknya, Robert Mellema merasa bahwa dirinya seorang belanda asli dan ia pun tidak menganggap Nyai sebagai ibunya sendiri yang telah melahirkannya. Ia sangat mengagumi ayahnya, walaupun ayahnya sendiripun tidak mengakui kehadirannya sebagai anaknya.
Dalam buku ini Pramoedya memberikan pesan bahwa pengetahuan serta kegigihan dalam belajar, seseorang dapat menjadi pribadi yang lebih baik dan dapat mengubah akan hidupnya sendiri, seperti Nyai yang tidak bersekolah, dapat menjadi seorang guru yang hebat bagi siswa H.B.S (Hollandsche Burgere School) Minke. Bahkan pengetahuan si Nyai yang didapat dari pengalaman, dari buku-buku dan dari kehidupan sehari-hari, ternyata lebih luas dari guru-guru sekolah H.B.S.
Pramoedya menuliskan kisah ini dengan sangat indah, kata-kata puitis bertebaran. Berbagai konflik terjadi, permasalahan yang begitu banyak. Semua ia gambarkan dengan nyata. Kisah dimulai dengan keseharian Minke, seorang Siswa H.B.S (Hollandsche Burgere School)  dengan berbagai kegiatannya, kemudian digambarkan berbagai situasi pada masa itu. Keseharian masyarakat pada masa itu. Semua diceritakan oleh Pramoedya dengan begitu cerdas. Pada suatu waktu, Minke diajak oleh temannya Robert Surhof untuk datang ke rumah temannya Wonokromo. Minke sudah sering mendengar desas-desus tentang keberadaan satu keluarga yang mempunyai perusahaan besar di Wonokromo itu. Nyai Ontosoroh, begitulah orang kampong menyebutnya. Pemilik dari perusahan bernama Boerderij Boeitenzorg, disukai  Nyai memiliki kekuatan yang membuat tuannya sendiri bertekuk lutut padanya. Selain itu Nyai juga mempunyai pengawal yang begitu menyeramkan yang bernama Darsam. Saat itu Mike ketakutan memikirkan hal itu, tetapi tiba-tiba kereta kuda merak berhenti di depan gerbang sebuah rumah megah, lalu Robert Surhof mengajak turun. Dalam pikiran Minke berkecamuk, inikah rumah Nyai Ontosoroh???, Robert Surhof tidak peduli pada berita itu karena ia seorang totok, belanda tulen dan tidak pernah peduli dengan apa yang dibicarakan oleh para pribumi. Mereka berdua masuk, dan disinilah kisah cinta ini dimulai dengan berbagai konflik yang rumit dan menegangkan.
Walaupun buku ini memuat kisah cinta, tetapi buku ini tidak mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang lunak karena sesuatu yang bernama “Cinta”. Buku ini membuat seolah-olah berada pada masa itu, menyaksikan langsung berbagai peristiwa yang terjadi, membuka pikiran kita tentang kehidupan dalam masa pemerintahan Hindia Belanda. Buku ini sesungguhnya memuat semua hal yang sering terjadi pada akhir abad 19 dan menjelang abad 20. Pemikiran-pemikiran untuk keadilan para pribumi, sikap masyarakat yang ada pada saat itu, strata sosial yang ada pada saat itu, semuanya terbalut dengan indah dalam kisah cinta yang terjalin antara Minke dan Annelis. Walaupun pada akhir kisah buku ini agak menyedihkan.
Buku ini cocok untuk dibaca semua kalangan remaja, mahasiswa, dengan keindahan tiap katanya yang mengajarkan pembaca secara tidak langsung mengerti akan bahasa Indonesia yang baku dan memang jarang untuk digunakan. Pesan-pesan yang terkandung dalam buku ini sangatlah banyak untuk kalangan remaja untuk menjadi pribadi yang giat, dan tetap berpegang teguh akan mimpinya. Akan tetapi sangat disayangkan, buku ini tidak cocok dibaca bagi anak-anak, karena di dalam buku ini ada beberapa bagian yang tidak patut dibaca oleh anak-anak, dan disatu sisi lainnya bahasa yang digunakan pada buku ini sangat tinggi.



Resensi Film "Habibi dan Ainun"
Judul Film                :  Habibi & Ainun 
Sutradara                  :  Faozan Rizal
Produser                   :  Dhamoo Punjabi
                                    Manoj Punjabi
Penulis                      :  Ginatri S. Noer
                                    Ifan Adriansyah
Pemeran                   :  Reza Rahardian
                        Bunga Citra Lestari
Musik                       :  Andi Rianto
Studio                      :  MD Pictures
Produksi                   :  MD Pictures
Jenis Film                 :  Drama
Tanggal rilis              :  20 Desember 2012
Durasi                       :  127 menit
Negara                      :  Indonesia
Bahasa                      :  Bahasa Indonesia, Bahasa Jerman

Sinopsis
Ini adalah kisah tentang apa yang terjadi bila kau menemukan belahan hatimu. Kisah tentang cinta pertama dan cinta terakhir. Kisah tentang Presiden ketiga Indonesia dan ibu Negara. Kisah tentang Habibie dan Ainun.
Rudy Habibie seorang jenius ahli pesawat terbang yang punya mimpi besar.berbakti kepada bangsa Indonesia dengan membuat pesawat terbang untuk menyatukan Indonesia. Sedangkan Ainun adalah seorang dokter muda cerdas yang dengan jalur karir terbuka lebar untuknya.

Pada tahun 1962, dua kawan SMP ini bertemu lagi di Bandung. Habibie jatuh cinta seketika pada Ainun yang baginya semanis gula. Tapi Ainun, dia tak hanya jatuh cinta, dia iman pada visi dan mimpi Habibie. Mereka menikah dan terbang ke Jerman.

Punya mimpi tak akan pernah mudah. Habibie dan Ainun tahu itu.cinta mereka terbangun dalam perjalanan mewujudkan mimpi. Dinginnya salju Jerman, pengorbanan, rasa sakit, kesendirian serta godaan harta dan kuasa saat mereka kembali ke Indonesia mengiringi perjalanan dua hidup menjadi satu.

Bagi Habibie, Ainun adalah segalanya. Ainun adalah mata untuk melihat hidupnya. Bagi Ainun, Habibie adalah segalanya, pengisi kasih dalam hidupnya. Namun setiap kisah mempunyai akhir, setiap mimpi mempunyai batas. Kemudian pada satu titik, dua belahan jiwa ini tersadar, apakah cinta mereka akan bisa terus abadi ??


Kelebihan
  1. Mengangkat kisah cinta murni dan abadi yang NYATA alias bukan fairytale. Bahwa cinta suci dan abadi itu benar-benar eksis di dunia nyata, bukan dongeng Cinderella dengan akhir “Happily ever after”, tapi kebahagiaan dalam lika-liku kehidupan sesungguhnya. Point ini membuat penonton berminat untuk menontonya.
  2. Akting Reza Rahadian yang sangat luar biasa, seakan sosok Habibi ada benar-benar dalam dirinya. Kecocokan akting dengan Bunga sangatlah besar, keduanya berhasil sosok seorang Ainun.
  3.  Hanung yang diketahui adalah Sutrada membuat terkagum akan aktingnya yang tidak disangka
  4. Setting yang bagus
  5. Ending yang mengharukan. Saat Habibie (asli) menangis dipusara (Alm) Ainun.
  6. Soundtrack filmnya, yang dimana lirik dari OST itu sendiri memiliki makna yang dalam
Kekurangan
Plot yang terkadang terlalu cepat sehingga mengurangi kenikmatan dramatisasi, adalah make up-nya. Yang kurang pas adalah pemeran anak-anak Habibi dewasa yang tampak jarak umurnya tidak jauh dari Habibi. Ini mungkin persoalan jajaran make up yang kurang menggambarkan wajah Habibi dan Ainun sewaktu di usia paruh baya. Make up ini saya kira masih merupakan persoalan film Indonesia.

Penilaian
Secara keseluruhan bagi saya Habibie dan Ainun adalah film romantis historis yang brilian. Serta mengangkat kisah antara Nasionalisme, Romantisme dan emosi.
Rating yang diberikan untuk film ini berkisar 3,5 sampai dengan 5 Bintang







No comments: