Resensi Buku "Bumi Manusia"
Judul : Bumi Manusia
Judul : Bumi Manusia
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Hasta Mitra
Tahun Terbit : 2000
Jumlah
Halaman : 405
Bumi Manusia adalah buku pertama
dari Tetralogi buru karya Pramoedya Ananta Toer. Buku ini ditulis Pramoedya
ketika masih mendekam di Pulau Buru. Sebelum ditulis pada tahun 1975, sejak
tahun 1973 terlebih dahulu diceritakan ulang kepada teman-temannya. Buku ini
melingkupi masa kejadian antara tahun 1898 hingga tahun 1918, masa ini adalah
masa munculnya pemikiran politik etis dan masa awal periode Kebangakitan
Nasional. masa ini juga menjadi awal masuknya pemikiran rasional ke Hindia
Belanda masa awal pertumbuhan organisasi-organisasi modern yang juga merupakan
awal kelahiran demokrasi pola Revolusi Perancis.
Buku ini adalah karya yang
begitu mengagumkan, di dalamnya begitu banyak pesan yang disampaikan secara
tersirat maupun tersurat. Pramoedya Ananta Toer membuat ceritanya mengalir
begitu saja dengan berbagai konflik yang monumental. Buku ini adalah buku yang
berbeda yang pernah saya baca dan membuat saya jatuh cinta pada buku ini. Kisah
yang disajikan berlatar pada akhir abad 19 menjelang abad 20, memuat tentang
keadaan sosial pada saat itu dengan segala permasalahan yang ada. Alur
ceritanya begitu menarik untuk di ikuti, keadaan masyarakat pada masa
pemerintahan Hindia Belanda ia gambarkan dengan begitu jelas. Berbagai
permasalahan ia tuliskan dengan jelas hampir tanpa celah. Dalam tulisannya
sendiri ia mengisahkan tentang kisah cinta antara seorang pribumi dengan gadis
Indo keturunan Belanda.
Minke, seorang pribumi yang
mempunyai pola pikir layaknya seorang Eropa, ia memang bukanlah keturunan
pribumi biasa, dalam darahnya masih mengalir darah para raja jawa, tetapi
dirinya sendiri sudah hampir bukan seorang jawa, hanya tubuhnya saja yang jawa
tetapi semua pandangannya tentang hidup sudah benar-benar seperti pandangan
seorang Eropa. Suatu hal yang tidak biasa pada zamannya. Ia adalah seorang
pemuda yang cerdas, penyuka sastra, berbeda dengan pemuda lain. Annelis
Mellema, gadis yang begitu cantik, bahkan dalam buku ini kecantikannya melebihi
kecantikan dari Ratu Nederland pada saat itu, Ratu Wihelmina. Ia merupakan
putri dari seorang Nyai, bukan seorang Nyai biasa, bukan hanya seorang
gundik yang seringkali dianggap menjijikkan. Ia merupakan putri dari seorang
ibu yang luar biasa, seorang ibu yang begitu mampu mengurusi banyak pekerjaan
setelah Tuan Mellema, suami tidak sahnya, berubah menjadi orang gila orang yang
sudah tidak peduli pada apapun disekelilingnya. Annelis lebih memilih untuk
menjadi seorang pribumi seperti ibunya, walaupun ayahnya merupakan seorang
belanda. Gadis ini begitu manja pada mamanya, sikapnya begitu manis. Sangat
bertolak belakang dengan sikap Annelis, kakaknya, Robert Mellema merasa bahwa
dirinya seorang belanda asli dan ia pun tidak menganggap Nyai sebagai ibunya
sendiri yang telah melahirkannya. Ia sangat mengagumi ayahnya, walaupun ayahnya
sendiripun tidak mengakui kehadirannya sebagai anaknya.
Dalam buku ini Pramoedya memberikan
pesan bahwa pengetahuan serta kegigihan dalam belajar, seseorang dapat menjadi
pribadi yang lebih baik dan dapat mengubah akan hidupnya sendiri, seperti Nyai
yang tidak bersekolah, dapat menjadi seorang guru yang hebat bagi siswa H.B.S (Hollandsche Burgere School) Minke. Bahkan pengetahuan si Nyai yang didapat dari pengalaman, dari
buku-buku dan dari kehidupan sehari-hari, ternyata lebih luas dari guru-guru
sekolah H.B.S.
Pramoedya menuliskan kisah ini
dengan sangat indah, kata-kata puitis bertebaran. Berbagai konflik terjadi,
permasalahan yang begitu banyak. Semua ia gambarkan dengan nyata. Kisah dimulai
dengan keseharian Minke, seorang Siswa H.B.S (Hollandsche Burgere School) dengan berbagai kegiatannya, kemudian
digambarkan berbagai situasi pada masa itu. Keseharian masyarakat pada masa
itu. Semua diceritakan oleh Pramoedya dengan begitu cerdas. Pada suatu waktu,
Minke diajak oleh temannya Robert Surhof untuk datang ke rumah temannya
Wonokromo. Minke sudah sering mendengar desas-desus tentang keberadaan satu
keluarga yang mempunyai perusahaan besar di Wonokromo itu. Nyai Ontosoroh,
begitulah orang kampong menyebutnya. Pemilik dari perusahan bernama Boerderij
Boeitenzorg, disukai Nyai memiliki kekuatan yang membuat tuannya
sendiri bertekuk lutut padanya. Selain itu Nyai juga mempunyai pengawal yang
begitu menyeramkan yang bernama Darsam. Saat itu Mike ketakutan memikirkan hal
itu, tetapi tiba-tiba kereta kuda merak berhenti di depan gerbang sebuah rumah
megah, lalu Robert Surhof mengajak turun. Dalam pikiran Minke berkecamuk,
inikah rumah Nyai Ontosoroh???, Robert Surhof tidak peduli pada berita itu
karena ia seorang totok, belanda tulen dan tidak pernah peduli dengan apa yang
dibicarakan oleh para pribumi. Mereka berdua masuk, dan disinilah kisah cinta
ini dimulai dengan berbagai konflik yang rumit dan menegangkan.
Walaupun buku ini memuat kisah
cinta, tetapi buku ini tidak mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang lunak
karena sesuatu yang bernama “Cinta”. Buku ini membuat seolah-olah berada pada
masa itu, menyaksikan langsung berbagai peristiwa yang terjadi, membuka pikiran
kita tentang kehidupan dalam masa pemerintahan Hindia Belanda. Buku ini
sesungguhnya memuat semua hal yang sering terjadi pada akhir abad 19 dan
menjelang abad 20. Pemikiran-pemikiran untuk keadilan para pribumi, sikap
masyarakat yang ada pada saat itu, strata sosial yang ada pada saat itu,
semuanya terbalut dengan indah dalam kisah cinta yang terjalin antara Minke dan
Annelis. Walaupun pada akhir kisah buku ini agak menyedihkan.
Buku ini cocok untuk dibaca semua
kalangan remaja, mahasiswa, dengan keindahan tiap katanya yang mengajarkan
pembaca secara tidak langsung mengerti akan bahasa Indonesia yang baku dan memang
jarang untuk digunakan. Pesan-pesan yang terkandung dalam buku ini sangatlah
banyak untuk kalangan remaja untuk menjadi pribadi yang giat, dan tetap
berpegang teguh akan mimpinya. Akan tetapi sangat disayangkan, buku ini tidak
cocok dibaca bagi anak-anak, karena di dalam buku ini ada beberapa bagian yang
tidak patut dibaca oleh anak-anak, dan disatu sisi lainnya bahasa yang
digunakan pada buku ini sangat tinggi.
Resensi Film "Habibi dan
Ainun"
Judul
Film
: Habibi & Ainun
Sutradara
: Faozan Rizal
Produser
: Dhamoo Punjabi
Manoj Punjabi
Penulis
: Ginatri S. Noer
Ifan Adriansyah
Pemeran
: Reza Rahardian
Bunga Citra Lestari
Musik
: Andi Rianto
Studio
: MD Pictures
Produksi
: MD Pictures
Jenis
Film
: Drama
Tanggal
rilis
: 20 Desember 2012
Durasi
: 127 menit
Negara
: Indonesia
Bahasa
: Bahasa Indonesia, Bahasa Jerman
Sinopsis
Ini adalah kisah tentang apa yang terjadi
bila kau menemukan belahan hatimu. Kisah tentang cinta pertama dan cinta
terakhir. Kisah tentang Presiden ketiga Indonesia dan ibu Negara. Kisah tentang
Habibie dan Ainun.
Rudy Habibie seorang jenius ahli pesawat
terbang yang punya mimpi besar.berbakti kepada bangsa Indonesia dengan membuat
pesawat terbang untuk menyatukan Indonesia. Sedangkan Ainun adalah seorang
dokter muda cerdas yang dengan jalur karir terbuka lebar untuknya.
Pada tahun 1962, dua kawan SMP ini bertemu
lagi di Bandung. Habibie jatuh cinta seketika pada Ainun yang baginya semanis
gula. Tapi Ainun, dia tak hanya jatuh cinta, dia iman pada visi dan mimpi
Habibie. Mereka menikah dan terbang ke Jerman.
Punya mimpi tak akan pernah mudah. Habibie
dan Ainun tahu itu.cinta mereka terbangun dalam perjalanan mewujudkan mimpi.
Dinginnya salju Jerman, pengorbanan, rasa sakit, kesendirian serta godaan harta
dan kuasa saat mereka kembali ke Indonesia mengiringi perjalanan dua hidup
menjadi satu.
Bagi Habibie, Ainun adalah segalanya.
Ainun adalah mata untuk melihat hidupnya. Bagi Ainun, Habibie adalah segalanya,
pengisi kasih dalam hidupnya. Namun setiap kisah mempunyai akhir, setiap mimpi
mempunyai batas. Kemudian pada satu titik, dua belahan jiwa ini tersadar,
apakah cinta mereka akan bisa terus abadi ??
Kelebihan
- Mengangkat kisah cinta murni dan abadi yang NYATA
alias bukan fairytale. Bahwa cinta suci dan abadi itu benar-benar eksis di
dunia nyata, bukan dongeng Cinderella dengan akhir “Happily ever after”,
tapi kebahagiaan dalam lika-liku kehidupan sesungguhnya. Point ini membuat
penonton berminat untuk menontonya.
- Akting Reza Rahadian yang sangat luar biasa,
seakan sosok Habibi ada benar-benar dalam dirinya. Kecocokan akting dengan
Bunga sangatlah besar, keduanya berhasil sosok seorang Ainun.
- Hanung yang diketahui adalah Sutrada
membuat terkagum akan aktingnya yang tidak disangka
- Setting yang bagus
- Ending yang mengharukan. Saat Habibie (asli)
menangis dipusara (Alm) Ainun.
- Soundtrack filmnya, yang dimana lirik dari OST
itu sendiri memiliki makna yang dalam
Kekurangan
Plot yang terkadang terlalu cepat sehingga
mengurangi kenikmatan dramatisasi, adalah make up-nya. Yang kurang pas adalah
pemeran anak-anak Habibi dewasa yang tampak jarak umurnya tidak jauh dari
Habibi. Ini mungkin persoalan jajaran make up yang kurang menggambarkan wajah
Habibi dan Ainun sewaktu di usia paruh baya. Make up ini saya kira masih
merupakan persoalan film Indonesia.
Penilaian
Secara keseluruhan bagi saya Habibie dan
Ainun adalah film romantis historis yang brilian. Serta mengangkat kisah antara
Nasionalisme, Romantisme dan emosi.
Rating yang diberikan untuk film ini
berkisar 3,5 sampai dengan 5 Bintang
No comments:
Post a Comment